Uang Registrasi Hangus, Benarkah Wisudawan Jadi Ladang Emas?

Wisuda adalah proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik pada perguruan tinggi. Sebagai tanda pengukuhan atas selesainya studi, biasanya diadakanlah prosesi pelantikan melalui rapat senat terbuka Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Upacara wisuda ini diadakan untuk semua lulusan program studi yang ada di Unissula.

Setiap tahunnya, Unissula menyelenggarakan dua kali pelaksanaan upacara wisuda. Upacara ini berlangsung setiap bulan April dan Oktober. Ada beberapa proses tahapan yang harus dilalui mahasiswa sebelum wisuda, salah satunya sidang skripsi/tugas akhir. Persyaratan termasuk hasil yudisium dan pelunasan pembayaran pun dibebankan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti wisuda.

Saat ini di Unissula telah memasuki tahap upacara wisuda yang kedua yaitu pada akhir bulan Oktober ini. Namun, yang terjadi pada mahasiswa yang akan mengikuti wisuda kali ini justru dibebankan dengan biaya registrasi Semester depannya. Uang sebesar Rp.1.450.000 dibebankan kepada para calon wisuda, dengan cakupan Rp 1.250.000 untuk biaya registrasi dan Rp.200.000 untuk kemahasiswaan. Tentu hal ini menjadi problema, sebab mahasiswa yang notabene telah dinyatakan lulus saat sidang skripsi disemester genap justru masih memikirkan biaya regristrasi di semester ganjil. Mahasiswa semester 8 diharuskan membayar uang registrasi tersebut sebagai syarat guna mengikuti perkuliahan di semester 9, padahal mahasiswa semester 8 ini hanya tinggal menunggu wisuda dan sudah tidak memiliki beban kuliah atau apapun di semester depannya. Begitu seterusnya, dimana mahasiswa yang lulus di tepat semester, mahasiswa tersebut harus menyelesaikan biaya disemester depannya, padahal mereka sudah tidak aktif di semester tersebut.

Sebanarnya hal ini juga terjadi pada wisuda periode 79 dan periode terdahulu. Misalnya jika terdapat 2000 peserta wisuda dikali Rp. 1.450.000, Bisa kita bayangkan berapa jumlah uang pembayaran registrasi tersebut. Kemudian, yang menjadi pertanyaan besar, kemana uang tersebut di alokasikan, untuk apa uang tersebut bagaimana kejelasannya ?

Berdasarkan audiensi yang diselenggarakan oleh BEM PT Unissula yang di hadiri oleh para Pimpinan dan beberapa perwakilan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) menurut keterangan dari Zul Anca selaku wakil presiden BEM PT Unissula bahwa belum ada kebijakan lanjut dari pihak Universitas.

“Sebenarnya audiensi kemarin belum clear secara keseluruhan, jadi kita mengacu pada sistem kalender akademik yang akan di ubah. Dimana wisuda akan di majukan misal wisudanya bulan April nanti jadi bulan Maret terus yang bulan Oktober jadi September, tapi ini berlaku untuk tahun depan,” Ungkap Zul, pada Senin (06/10) lalu dia mengatakan bahwa belum ada kepastian untuk periode 80 ini.

Berdasarkan dari hasil audiensi tersebut maka jelas pihak dari Universitas tidak perduli terhadap mahasiswa yang akan diwisuda periode ke dua ini, karena seperti dijelaskan oleh Zul kebijakan tersebut mungkin akan berlaku selepas kalender akademik di ubah. Pada kenyataannya, hingga saat ini pun belum ada Surat Keputusan (SK) yang di keluarakan oleh pihak Univesitas terkait perubahan tersebut. Padahal jelas, Universitas adalah pihak yang membuat dan mengeluarkan sistem kalender akademik tersebut, bukankah itu hal yang sangat mudah bagi Universitas untuk merubah sistem yang ada atau mungkin pimpinan-pimpinan kita tidak mempunyai jalan keluar akan permasalahan ini, kita yakin pimpinan-pimpinan kita adalah orang yang cerdas dan mereka pasti tau jalan keluar dari permasalahan ini.

“Lha, untuk dana yang mahasiswa bayarkan itu belum ada jawaban pengembalian dari pihak rektorat, karena audiensi terhenti. Kemarin sudah ditanyakan kepada rektorat, mereka menjawab karena mahasiswa tersebut masih aktif jadi harus membayar dan sistemnya emang gitu,” Imbuh Zul Anca.

Pada umumnya audiensi tersebut tidak ada keterangan lebih jelas dari pihak Universitas, dimana mahasiswa semester akhir yang hendak diwisuda ini sangat menginginkan bahwa kebijakan pembayaran uang registrasi tersebut dapat dihilangkan. Wajar jika hal ini dianggap tidak rasional, karena selain mereka sudah tidak ada beban studi di semester 9 mereka harus membayar ditambah keadaan perekonomian saat ini belum benar-benar pulih.

Bercermin dari beberapa Perguruan Tinggi Negri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kota Semarang dimana mereka memiliki kebijakan pengembalian uang regristrasi/UKT dengan syarat dan ketentuan SKL yang sudah keluar. Misalnya, berdasarkan keterangan dari salah satu mahasiswa di PTN Universitas Diponegoro Amirudin Nur Yusron, dimana ada pengembalian uang registrasi dengan ketentuan atau syarat-syarat pengembaliannya dengan dibuktikan adanya Surat Keterangan Lulus (SKL).

 “Nah, itu patokannya dari kapan di nyatakan lulus di SKL, jadi misal semester 9 aku sidang bulan September nah nanti bisa lihat SKL lulus kapan, kalo misal aku lulus tanggal 30 September itu bisa mengajukkan pengembalian UKTnya.” Kata Yusron.

Sistem pengembalian pembayaran registrasi berdasarkan SKL ini pun sama di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di Unnes sendiri mahasiswa yang sudah medapakan SKL maka status mahasiswa aktif berganti menjadi alumni.

Senada dengan kedua PTN tersebut, di Universitas Semarang (USM) yang merupakan salah satu PTS di Kota Semarang juga memberikan perlakuan yang sama terhadap para mahsiswa yang berwisuda yaitu pengembalian uang registrasi atau  UKT yang dibayarkan di awal

“Kayak wisuda tahun kemarin bayar 1,8 juta pihak universitas dan fakultas mengembalikan uang, pokoknya uang balik ada sekitar 900 ribu. Dari fakultas balik 500 ribu, soalnya yang 400 ribu untuk kelengkapan wisuda.” Tutur Manda kepada tim Suprema melalui DM Instagram.

Dengan ini  mahasiswa sangat mengharapkan pihak Univesitas segera memberikan keterangan dan kebijakan lebih lanjut mengenai masalah dana registrasi tersebut. Mahasiswa juga membutuhkan keadilan dengan rasa kemanusiaan. Yang harus disadari adalah kenyataan bahwa, wisuda hanyalah seremoni akademik yang seharunya tidak menjadi beban atau bahkan menjadi kendala mahasiswa menerima ijazah kelulusan  apalagi harus membayar biaya yang darinya mahasiswa tidak mendapatkan benefit apapun.

penulis: Evi & Alvi

Ikuti Kami di Media Sosial: