RAJAM Sepakat Turun ke Jalan Tolak Omnibus Law

SEMARANG. lpmsuprema.com – Rakyat Jawa Tengah Melawan (RAJAM) gelar konsolidasi akbar menolak Omnibus Law di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang pada Jumat, (6/3). Konsolidasi ini diikuti oleh berbagai elemen mahasiswa, buruh, tani, nelayan, dan masyarakat miskin kota.

Doc. Reza Agil Mahendra

Konsolidasi diawali dengan perkenalan dari berbagai elemen, kemudian dilanjut dengan pembahasan terkait Omnibus Law. Konsolidasi ini adalah hasil kesepakatan dalam diskusi yang diselenggarakan  oleh BEM Undip dan BEM FH Undip pada tanggal 27 Februari 2020 yang lalu.

Beberapa kali diskusi dan kajian terkait Omnibus Law juga sudah dilakukan di berbagai Universitas. Cornel dari LBH Semarang saat ditemui tim Suprema menjelaskan adanya pertemuan diskusi yang diselenggarakan ini untuk mencegah Omnibus Law tersebut disahkan karena memberikan karpet merah bagi investasi dan cenderung dirasa merugikan kepentingan buruh.

Gerakan RAJAM akan melakukan aksi tolak Omnibus Law  pada tanggal 11 Maret 2020 bertepatan dengan hari Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Gelombang besar juga akan dilakukan oleh RAJAM untuk menolak dengan tegas Omnibus Law.

“Ada beberapa dari serikat buruh dan komunitas yang hadir, dan di akhir pertemuan (diskusi) itu kita melihat bahwa pergerakan kita masih terpecah pecah, sementara pengusung Omnibus Law, musuh kita sudah solid konsolidasinya tanpa ada campur tangan pergerakan dari masyarakat, maka dari itu kita tidak punya kekuatan yang cukup untuk melawan, sehingga kita perlu untuk menanggalkan bendera dan ego sektoral guna menjaring solidaritas seluas luasnya dari masyarakat sipil.” Ujar Cornel LBH Semarang.

Cornel menambahkan bahwa kemungkinan besar Omnibus Law itu akan bisa terjadi, sehingga tidak ada yang bisa mencegah niat buruk itu, selain masyarakat. “Saya tidak ingin menunggu krisis itu benar-benar terjadi, jadi kita seharusnya tidak perlu menunggu tetapi mencegah krisis itu terjadi, disahkan atau tidak disahkannya Omnibus Law kita akan terus berjuang.” Tambahnya dengan tegas.

Selain itu, Mulyono dari KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) Jawa Tengah, memberikan penjelasan adanya tujuan dari diadakanya konsolidasi ini merupakan penyatuan pemikiran untuk menolak Omnibus Law, bukan hanya di sektor ketenagakerjaan tetapi mempengaruhi di perundang-undangan lain.

“Jadi ini adalah suatu pergerakan yang luar biasa yang harus kita lakukan terhadap rezim Jokowi-Ma’ruf, banyak sekali ketimpangan yang dilakukan oleh pemerintah sebelum ada Omnibus Law. Serikat pekerja juga sudah merasakan banyak sekali pelanggaran dilakukan oleh pengusaha tetapi dalam hal ini pemerintah abai.” Ungkap Mulyono

Terkait Omnibus Law ini, Mulyono menyampaikan dirasa banyak sekali perusahaan yang tidak memberikan cuti, serta ada sistem target yang membuat buruh ketika berkerja ada perpanjangan waktu, seperti jam lembur yang tidak sesuai dengan upah berdasarkan perhitungan jam kerja lembur. Disinilah permasalahan pokok sentral, sehingga membutuhkan beberapa elemen untuk menolak omnibus law bukan hanya RUU CILAKA saja, tetapi perundang undangan lain.

Mulyono menambahkan bahwa dengan adanya RAJAM ini (Rakyat Jawa Tengah Melawan), kita akan lebih besar untuk melakukan penolakan ini, karena Jawa Tengah sudah tertinggal, Sehingga kemungkinan kita akan lebih melakukan strategi  yang sudah berjalan seperti di daerah lain.

“Situasi dan kondisi buruh saat ini sangat memprihatinkan di jawa tengah, karena jawa tengah sebagai tolak ukur upah yang sangat rendah, sehingga banyak relokasi perusahaan yang datang disini, saya harap dengan adanya RAJAM ini kita tidak tertinggal dengan daerah daerah lain.” Jelas Mulyono

Sehingga pergerakan ini harus didukung terus oleh buruh, nelayan, mahasiswa dan aliansi masyarakat sipil serta beberapa elemen terkait penolakan terhadap omnibus law karena ini merupakan bagian monopoli dari pemerintah, bukan mensejehterakan kaum buruh tetapi nama buruh sekedar dimanfaatkan sebagai citra positif pemerintah. Dengan embel-embel alasan investasi, buruh malah jadi sapi perah bagi birokrasi, maka kita sebagai mahasiswa jangan berdiam diri

Penulis : Zuy

Ikuti Kami di Media Sosial:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *