KULIAH DARING

Antara Koneksi, Untung dan Rugi Masihkah ada Nurani?

Wabah pandemi akibat penyebaran virus Corona (Covid-19) telah secara nyata membuat dunia lumpuh. Menggoyahkan perekonomian dan ketersediaan pangan masyarakat. Sejak kemunculannya, neraca ekonomi, aktifitas sosial, dan ruang hidup manusia seolah di kerangkeng serta dilanda ketidakjelasan arah, tak terkecuali dunia pendidikan pun harus menerima imbas negatif karenanya. Semua orang  bahkan saya sebagai bagian dari masyarakat retan mau tidak mau harus ikut menanggulanginya.

Upaya memperlambat laju peneyebaran Covid-19 ini, Kebijakan sosial distancing pun di berlakukan oleh pemerintah. Berbagai formulasi bermunculan di setiap sektor kehidupan, tak terkecuali sektor pendidikan. Kemendikbud dengan cepat mengeluarkan kebijakan kuliah jarak jauh atau biasa disebut Daring (Online). Mahasiswa dan dosen lantas dirumahkan, Kegiatan Belajar Mengajar di Online kan, juga karyawan bekerja dari rumah  atau istilah bekennya WFH (Work From Home).

Kendati sebagai salah satu Warga Negara Indonesia terdampak, status Mahasiswa saya pun semakin mempesulit kehidupan saya. Selain harus bertahan hidup, saya juga harus tetap mempertahankan agar pendidikan saya tidak terputus dan terus berlanjut.

Selama empat semester menjadi mahasiswi dijurusan Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, baru kali ini kuliah online diadakan. Jujur saya yang masih dalam fase mencari kenyamanan untuk mengikuti perkuliaahan agar bisa menyerap ilmu dengan sebaiknya, bergabung diberbagai oraganisasi, mengikuti seminar dibanyak tempat, bahkan selalu rajin dalam mentaati kebijakan kampus, merasa kikuk dengan kuliah online ini.

Sepertinya tidak hanya saya saja, pihak kampus sebagai institusi, individu dosen, dan mahasiswanya sendiri yang tidak terbiasa dengan perkuliahan online terlihat banyak mengalami kegagapan. Semua elemen kampus harus melakukan adaptasi dengan cepat. Namun, tetap saja muncul betapa carut marutnya kampus, mulai dari kebijakan kampus yang dinilai tidak manusiawi, kekejaman dosen karena memberikan tugas yang seabrek , bahkan metode yang digunakan untuk perkuliahan dirasa kurang efektif.

Berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan akan merubah kehidupan saya menjadi lebih baik, saya memutuskan menjadi mahasiswa rantau.  Namun, akibat pandemi ini seperti melahirkan babak baru bagi saya. Saya yang berasal dari salah satu daerah kabupaten di Provinsi Jawa tengah yang saat ini menyandang predikat Zona Merah, semakin memperparah kondisi saya. Dari data penyebaran covid-19 didaerah saya yang setiap harinya kian bertambah, membuat saya kian was-was. Logikanya dengan semakin bertambahnya kasus positif sama halnya dengan perpanjangan waktu social distancing, yang artinya akan membuat kuliah online ini semakin diperlama.

Dari sekian banyak plus-minus kuliah online yang  saya baca di Internet, bagi saya semua hanya tercover didalam minusnya saja. Bagaimana tidak, ketika mahsiswa lain bisa dengan leluasa dengan berkuliah dimana saja seperti di ruang tamu, di dalam mobil sambil nyetir, di kamar sambil tiduran dan main game online, atau diruang keluarga sambil ngemil biskuit dan secangkir teh manis sebagai hidangan. Apapun asal tetap patuh mengikuti hastag stay at home yang digaungkan warga medsos. Namun, berbeda dengan saya yang harus mencari tempat terbaik di semua bagian rumah saya hanya untuk mendapatkan koneksi. Letak geografis rumah saya yang jauh dari perkotaan, dan harus naik turun bukit untuk bisa sampai dengan cepat pun menjadi masalah besar karena membuat jaringan susah nyantol di hp saya. Jangankan untuk menonton series drama korea terbaru yang booming dikalangan anak muda sekarang, untuk mengirim pesan di WhatsApp saja harus terpending.

Awal dimulainya kuliah online, di fakultas hukum sendiri berjalan sangat monoton. Dosen yang heterogen, membuat beberapa hanya me-upload materi perkuliahan di portal sim Unissula dan mahsiswa dituntut belajar sendiri. Tapi apakah semua mahasiswa mempelajarinya dengan baik? Entahlah, bagi saya sendiri ketika dirumah ada-ada saja yang terjadi tak jarang materi-materi itu terabaikan. Bahkan untuk mendapatkan meterinya pun saya harus meminta tolong salah satu teman untuk mendowloadkan nya dari portal sim Unissula yang kemudian dikirim via WhatsApp yang harus buffering sampai puluhan menit untuk bisa terdownload, karena koneksi yang tak selancar jalan tol.

Belum lagi dengan pengalaman uts online yang dibatasi waktu hanya 60 menit sampai 90 menit tergantung sks setiap mata kuliah. Mirisnya saya harus mengerjakan di laptop kemudian dipindah ke handphone dan meminta teman saya untuk mengunggahnya. Dalam pengerjaan pun di bumbui rasa takut diburu waktu dan alhasil tidak konsen dalam mengisi jawabannya, karena tidak ada tolelir barang sedetik saja telat mengklik tombol upload.

Teknologi memang semakin maju, terbukti setelah uts saya lalui dengan penuh dilema, saat ini kebanyakan dosen memilih untuk menggunakan platform zoom, google meet atau diskusi via WhatsApp yang paling sederhana. Tak hanya itu keterbatasan  koneksi ini sangat menghambat saya dalam belajar. Semua diskusi dan kegiatan seakan tak mau kalah, semua dilakukan secara online, seperti webinar, streaming youtube,  bahkan via medsos seperti instagram, facebook atau podcast twitter yang semakin menjadi problema bagi saya.

Apakah ada evaluasi dari perkuliahan secara online ini dari pihak kampus atau pemerintah? Atau apakah mereka sedang mempersiapkan aplikasi canggih yang bisa diakses dengan kuota paling irit tanpa jaringan? atau sedang memikirkan cara mendapatkan dana untuk memberikan subsidi buku untuk mahasiswa? Entahlah saya rasa tidak. Dengan melihat kenyataan dilapangan yang sebenarnya memprihatinkan, misalnya bagi saya sendiri sumber literasi hampir tidak punya, jangankan ke perpustakaan atau mengakses jurnal, buku pun tidak ada. Iya sih, kata Ki Hajar Dewantara ” Jadikan semua tempat sebagi sekolah dan jadikan semua orang sebagai guru”, tapi ketika pelajaran dasar yang wajib di berikan tidak terpenuhi harusnya menjadi hantaman keras untuk dunia pendidikan.

Perkuliahan yang berubah 180 derajat ini mau tidak mau saya harus menyesuaikan diri dan mencari solusi agar tetap bisa mendapatkan dan menyerap materi baik dari dosen maupun diskusi diluar perkuliahan semaksimal mungkin. Berbagai jenis paket data telah saya coba demi mendapatkan sinyal dan koneksi terbaik. Namun, tetap saja jangankan paket data yang dibagikan pemerintah atau kuota unlimited dengan harga miring, jenis paket data termahal yang pernah saya coba pun sinyalnya sering kali hilang-hilangan. Alhasil, bak seorang borjuis saya memaksakan diri untuk menggunakan paket data dengan harga yang mahal itu.

Pasalnya, belum selesai masalah koneksi keadaan paceklik seperti ini hal-hal terjadi dalam keluarga saya. Saya yang hanya seorang anak petani dan buruh rantau keadaan perekonomian keluarga turun drastis. Bapak saya di ambang PHK karena tempat kerjanya yang mulai bangkrut, bahkan sampai saat saya menulis cerita ini dari ratusan karyawan yang bertahan tidak lebih dari 30 orang termasuk staff dan bebarapa buruh proyek termasuk bapak. Untuk bulan bulan terakhir gaji yang bapak diterima hanya separuh dari biasanya.

Ibu yang mengelola beberapa ladang buah salak untuk penghasilan tambahan pun, kini tak mengeluarkan hasil. Sebenarnya untuk bulan-bulan pertengahan seperti ini harga buah salak sedang tinggi-tingginya karena musim buah lain yang sedang surut. Namun bukan berarti tidak laku, melainkan tidak ada tengkulak yang membeli karena PSBB yang dilakukan beberapa wilayah yang menghambat laju transportasi bagi para tengkulak untuk memasok ke daerah-daerah atau bahkan ekspor keluar negeri  sekalipun. dan saya sendiripun sebenarnya tidak tinggal diam, saya mencoba jualan online tapi saking maraknya penjual online, seolah-olah semuanya sedang berlomba mengundi keberuntungan mereka. Yang bertahan akan terus diatas dan mereka yang rentan akan tenggelam, dan sialnya saya bagian dari yang rentan itu.

UKT untuk berlangsungnya pendidikan, uang kost tiap bulan yang harus dibayarkan karena Ibu kost tidak berkenan menambahkan addendum pemangkasan pembayaran, kuota internet yang kian meningkat, dan kebutuhan sehari-hari selalu terngiang dipikiran saya. Meskipun tak ada yang perlu dikhawatirkan selagi bertumpu pada Tuhan, hal itu tetap menjadi kekhawatiran yang permanen.

Kebijakan kampus untuk memberi subsidi kuota sebesar Rp. 200.000 per semester pun, bagi saya tidak mempengaruhi apapun. Saya contohkan harga minimal kuota 2 GB adalah Rp.30.000. Untuk sekali melaksanakan kuliah tatap muka menggunakan zoom selama 40 menit menghabiskan minimal 250 MB, sehari bisa 2 atau 3 jadwal kuliah belum lagi mata kuliah dengan 4 sks bisa lebih dari satu jam. Ketika dihitung dari angka terkecil maka 1 hari akan menghabiskan 500 MB. Kuota sebesar 2 GB akan raib dalam 4 hari, maka dalam hitungan tersebut uang sebesar Rp.200.000 akan habis sekitar 25 hari itupun belum ditambah pemakaiaan kebutuhan internet lain dan hanya menggunakan zoom saja, kalau tiap pertemuan harus melalui google meet, live instagram atau  on youtube seperti pembelajaran Toefl? bisalah kalian kalkulasikan sendiri. Secara rasional uang sebesar Rp200.000 sangat jauh untuk bisa me-cover kebutuhan kuliah online mahasiswa selama satu semester.

Kenapa tidak pasang wifi kalau begitu? Sepertinya saya akan membunuh orang tua saya secara perlahan, meskipun mereka akan mengusahakan jikalaupun harus berhutang. Dan berhutang untuk itu bukan solusi terbaik. Yang bisa saya lakukan saat ini benar-benar menggunakan kuota internet saya sehemat mungkin, berusaha tidak membuka medsos, dan bahkan mematikan data ketika membaca sebuah artikel di internet setelah berhasil terbuka, atau meenghindari obrolan dengan para pecinta drama korea karena terlambat menonton series terbaru.

Bagaimana jikalau kampus memberi subsidi seharga tagihan wifi perbulan? Mungkin ceritanya akan berbeda, iya kan?

Dispensasi keterlambatan pembayaran UKT bagi mahasiswa pun malah menjadi momok bagi saya sendiri, ketika jatuh tempo apakah boleh dicicil atau dibayar lunas saat itu juga. Mungkin ini bisa ketika mereka memang berasal dari keluarga berada atau bahkan seorang anak PNS yang tidak berkerja pun tetap digaji. Lalu bagaimana yang orang tuanya bukan PNS? Dan yang orang tuanya harus mencari pekerjaan baru karena terkena PHK? Atau mereka yang harus memulai dari 0 lagi karena perusahaan mereka bangkrut? Apakah harus berhenti berkuliah karena tidak sanggup membayar UKT? Karena semua orang hanya bisa memprediksi, tidak ada yang tau pasti kapan pandemi ini akan berakhir 1 bulan lagi 2 bulan atau bahkan 3 bulan yang akan datang. Setelah pandemi berakhirpun mereka harus memulihkan perekonomian yang membutuhkan waktu untuk bisa kembali seperti semula.

Dalam hal ini saya tidak menyalahkan pihak manapun, tidak menyalahkan virus covid-19 yang memang telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menguji semua makhluk yang bernyawa. Tidak juga menyalahkan pihak kampus karena tidak memberikan potongan UKT dan tidak memberi perkuliahan yang efektif secara maksimal, atau bahkan menyalahkan ibu kost yang paling diuntungkan ketika ditinggal pulang kampung oleh mahasiswa. Seyogyanya kita harus bisa mengambil hikmah, berdo’a dan berikhtiar. Kenapa kita dilarang keluar ruamah? Untuk lebih dekat dengan keluarga atas sering nya kita mengeluh di story whatsApp dengan kalimat ‘home sick’ kita? Atau kenapa kita diwajibkan memakai masker dan sering-sering mencuci tangan, apa Tuhan sedang membungkam mulut kita yang dengan mudahnya membicarakan orang lain atau tangan kita terlalu sering berbuat dzalim?

Yang saya harapkan bukan belas kasihan dari kampus tapi berharap kampus mengambil langkah yang paling tepat. Tidak ada yang tidak berdampak dalam pandemi ini, misalkan para tukang ojek kehilangan penumpang, tenaga medis kehilangan nyawa mereka, bahkan para pemilik kost yang tidak memberikan potongan biaya bulanan pun bisa jadi tulang punggung keluarga meraka terkena PHK harus menangung beban keluarga yang banyak dan kost menjadi satu-satunya penghasilan. Atau saya contohkan, bapak saya yang memutuskan untuk tidak pulang karena pulang sama halnya berhenti kuliah. Sebenarnya  bukan melulu soal UKT, yang harus dicari solusi dan menjadi pertimbangan bukanlah pihak-pihak mana yang akan diuntungkan dan siapa yang dirugikan tapi kebijakan berdasarkan kemanusiaan.

Penulis : Mahasiswa Semester 4 Fakultas Hukum Unissula

Editor : Bagas

Ikuti Kami di Media Sosial:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *