75 Tahun Yang Lalu

14 februari 2021 merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh muda-mudi untuk menyatakan rasa cinta mereka kepada orang terkasih. Yap! Hari valentine. Hari dimana muda-mudi saling mengirim coklat dan sebuket bunga mawar merah atau hanya sekadar saling bertukar surat cinta berisi puisi tuk pujaan hati. Hampir sebagian besar kawula muda khususnya di Indonesia tidak asing dengan perayaan ini. Lucunya, bak potongan drama, saya sendiri pernah pernah menjumpai teman sebangku saya mendapat sepotong coklat misterius di lacinya pada hari valentine. Sungguh pemuda penuh gelora cinta. Sedangkan 75 tahun yang lalu, di hari yang sama. Para kawula muda tengah melakukan suatu Gerakan besar untuk negrinya. Bersatu padu untuk menentang pemerintahan Jepang yang telah melampaui batas kemanusiaan.

Pada kala itu, pemerintahan jepang menerapkan kebijakan-kebijakan yang brutal seperti romusha, dimana rakyat dijadikan budak dan harus bekerja tanpa kenal batas. Mereka juga memaksa para pekerja untuk membangun benteng-benteng di pantai serta mengumpulkan semua hasil panen, akibatnya banyak rakyat yang meninggal dalm kondisi yang mengenaskan. Tidak hanya itu, kekejaman Jepang tidak pandang bulu, bahkan kaum perempuan menjadi korban pelecehan oleh para serdadu. Dan yang sangat memprihatinkan, tindakan semena-mena ini tidak hanya terjadi pada rakyat kecil dan kaum perempuan saja, bahkan dari sesama golongan militer pun mendapat perlakuan yang tidak pantas. Hal ini sungguh melukai harga diri dan sangat mengintimidasi karena menyangkut suatu ras. Tindakan tidak manusiawi ini mengakibatkan rakyat Indonesia hidup penuh kesengsaraan dibawah kekaisaran Jepang selama perang Dunia II.

Merasa geram, tantara PETA yang menyaksikan dan merasakan ketidakadilan terjadi dihadapannya. Dengan semangat membela tanah air dan dibawah pimpinan Shodancho Suprijadi dan Muradi mereka melakukan pemberontakan pada tanggal 14 Februari 1945. Dipilih sebagai waktu yang tepat karena aka nada pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar. Sayangnya, pemberontakan tersebut tidak cukup untuk menggertak pemerintahan Jepang. Pemberontakan tersebut dapat dibendung oleh Jepang berkat gabungan Heiho dan beberapa anggota PETA yang tidak ikut dalam pemberontakan. Kabar buruknya, Shodancho Suprijadi dikabarkan menghilang bahkan tersiar kabar beliau sudah meninggal, ada pula yang mengatakan bahwa beliau masih hidup sampai sekarang. Sedangkan Muradi dan para pemuda yang tergabung dalam pemberontakan tersebut diadili dan dijatuhi hukuman. Sejatinya mereka merupakan pahlawan bangsa. Mereka sangat cinta akan tanah airnya, hanya saja keberuntungan tidak sedang memihaknya.

Betapa kontras dalam perbedaan masa, detik ini banyak pemuda penuh dengan gelora cinta buta, di lain masa, para pemuda penuh dengan gelora cinta tanah airnya. Kita tak bisa melupakan dengan mudah perjuangan mereka untuk negeri kita, Indonesia. Mengenang kembali aksi heroik para harapan bangsa merupakan wujud apresiasi dalam bentuk cinta yang sebenarnya. Kini bukan lagi hari valentine sebagai keidentikan di 14 februari, melainkan notifikasi dari kisah perjuangan pejuang PETA bersama Muradi dan Suprijadi. Sebagai penutup yang singkat, saya mengutip kata motivasi kondang dari presiden pertama kita. “JAS MERAH”.

 

Penulis: Yuni Rahmawati (Mahasiswi FH Unissula 2020)

Editor: Tuti

Ikuti Kami di Media Sosial: